Saya sesekali bertanya kepada diri sendiri, mengapa orang membutuhkan sebuah indeks prestasi? Apakah dengan sebuah Indeks Prestasi dapat mencerminkan seseorang?
Mengapa banyak orang dengan giatnya mengejar sebuah “nilai” yang katanya merupakan wujud fisik daripada hasil yang telah kita capai. Memang, Nilai merupakan representasi sebuah hasil, dimana hasil ditentukan oleh sebuah proses. Namun manakah yang akan orang hargai? Hasil atau proses? Apabila hasil=proses dan hasil=nilai, tapi apakah benar proses merupakan sebuah nilai?
Mungkin memang benar proses merupakan sebuah nilai, nilai untuk diri sendiri dan bagi mereka yang dapat melihat sebuah proses dibalik angka yang disebut nilai. Namun, mayoritas melihat nilai dari sebuah hasil, melihat hasil dari sebuah nilai. Andaikan timbul suatu pertanyaan, manakah yang lebih penting, proses ataukah nilai? Mungkin secara bijak orang pasti menjawab sebuah proses, namun faktanya dalam masyarakat nilai lebih penting bukan?
Orientasi penilaian masyarakat sendiri tampaknya membuat sedikit banyak pengaruh dalam budaya manusia. Manusia lebih menginginkan sebuah nilai daripada sebuah proses. Namun, bagi mereka yang menilai, yakinkah anda dengan yang anda nilai? Apakah tepat penilaian seorang penilai, dimana nilai dengan isi yang baik, ataukah hanya nilai dengan kekosongan?
Ya tanpa kita sadari, sebuah sistem “indeks prestasi/penilaian” ini tampaknya yang membuat manusia hanya terfokus pada suatu titik, titik yang disapa “Nilai” yang umumnya berupa angka. Hidup manusia menjadi dipenuhi oleh banyak angka, karena itulah yang mereka cari. Tanpa kita sadari, nilai pun membuat banyak konflik, entah konflik mikro ataupun makro.
Namun, adakah cara lain untuk memandang sebuah pribadi diluar nilai?
Nilai